<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: DEBAT ABU HANIFAH DENGAN ILMUWAN KAFIR</title>
	<atom:link href="http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/</link>
	<description>hanya mata yang bisa berbicara 
, mata yang tak bisa berbohong
mata yang banyak bercerita
mata yang tulus
hanya mata yang ciptaan - Nya
yang BISA</description>
	<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 20:43:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: bondan</title>
		<link>http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/#comment-8</link>
		<dc:creator>bondan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 11:09:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/#comment-8</guid>
		<description>bos sory bukanya allah punya tempat sendiri yang maha tinggi?
ato aku yg memang gak ngerti hehehehe
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bos sory bukanya allah punya tempat sendiri yang maha tinggi?<br />
ato aku yg memang gak ngerti hehehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aditya</title>
		<link>http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/#comment-7</link>
		<dc:creator>aditya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 06:28:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/#comment-7</guid>
		<description>Sori baru kasi komentar sekarang, nuhun Ced komentarnya sebenarnya kisah ini ada banyak versi gua baru sadar juga dengan kalimat yang itu tapi coba deh ini versi lain dari kisah tsb.
Sayangnya tidak disebutkan sumber kisah Imam Abu Hanifah tersebut.

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : “Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :”Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara :”Katakan pendapat tuan!”.

Debat ...........
Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :”Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?”. “Benar, tahukah tuan tentang hitungan?”, tanya Abu Hanifah. “Ya”. “Apa itu sebelum angka satu?”. “Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu”, jawab sang kafir itu. “Demikian pula Allah Swt”. “Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya”, tanya si kafir tersebut. “Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?”. “Ya”. “Adakah di dalam susu itu keju?”. “Ya”. “Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?”, tanya Abu Hanifah.

“Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!”, jawab ilmuwan kafir itu. “Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan”, jelas Abu Hanifah. “Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?”, tanya orang kafir itu. “Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?”, tanya Abu Hanifah. “Sinarnya menghadap ke semua arah”. “Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi”. “Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?”.

“Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. “Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”. Ilmuwan kafir mengangguk. “Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”. Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.

Islam selama ini ditempatkan pada tempat yang jauh di atas langit. Jaman sekarang yang awam menjadi seolah pandai dengan keawamannya tentang Islam. Dengan membabi buta dia menggunakan gaya bahasa yang menarik hati untuk memperdaya lawan bicaranya. Adakah penjelasan yang lebih lumrah mirip penjelasannya Imam Abu Hanifah seperti di atas? Adakah persoalan lain dimana ummat Islam semakin terpinggirkan dan tersungkur dikubangan lumpur fitnah dan noda? Tidak adakah dialog yang lebih bermutu pada diri ummat Islam hingga dapat melahirkan solusi cerdas ditengah-tengah kegalauan ummat jaman sekarang? Apakah tiap-tiap dari kita sebagai bagian dari ummat Islam muncul dengan ide dan pemikiran yang cemerlang dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang muncul?

Untuk keterangan yang lebih jelas, sila merujuk pada
&lt;a href="http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/8637" rel="nofollow"&gt;http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/8637&lt;/a&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sori baru kasi komentar sekarang, nuhun Ced komentarnya sebenarnya kisah ini ada banyak versi gua baru sadar juga dengan kalimat yang itu tapi coba deh ini versi lain dari kisah tsb.<br />
Sayangnya tidak disebutkan sumber kisah Imam Abu Hanifah tersebut.</p>
<p>Imam Abu Hanifah pernah bercerita : “Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :”Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara :”Katakan pendapat tuan!”.</p>
<p>Debat &#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :”Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?”. “Benar, tahukah tuan tentang hitungan?”, tanya Abu Hanifah. “Ya”. “Apa itu sebelum angka satu?”. “Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu”, jawab sang kafir itu. “Demikian pula Allah Swt”. “Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya”, tanya si kafir tersebut. “Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?”. “Ya”. “Adakah di dalam susu itu keju?”. “Ya”. “Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?”, tanya Abu Hanifah.</p>
<p>“Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!”, jawab ilmuwan kafir itu. “Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan”, jelas Abu Hanifah. “Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?”, tanya orang kafir itu. “Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?”, tanya Abu Hanifah. “Sinarnya menghadap ke semua arah”. “Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi”. “Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?”.</p>
<p>“Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. “Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”. Ilmuwan kafir mengangguk. “Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”. Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.</p>
<p>Islam selama ini ditempatkan pada tempat yang jauh di atas langit. Jaman sekarang yang awam menjadi seolah pandai dengan keawamannya tentang Islam. Dengan membabi buta dia menggunakan gaya bahasa yang menarik hati untuk memperdaya lawan bicaranya. Adakah penjelasan yang lebih lumrah mirip penjelasannya Imam Abu Hanifah seperti di atas? Adakah persoalan lain dimana ummat Islam semakin terpinggirkan dan tersungkur dikubangan lumpur fitnah dan noda? Tidak adakah dialog yang lebih bermutu pada diri ummat Islam hingga dapat melahirkan solusi cerdas ditengah-tengah kegalauan ummat jaman sekarang? Apakah tiap-tiap dari kita sebagai bagian dari ummat Islam muncul dengan ide dan pemikiran yang cemerlang dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang muncul?</p>
<p>Untuk keterangan yang lebih jelas, sila merujuk pada<br />
<a href="http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/8637" rel="nofollow">http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/8637</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Cedi</title>
		<link>http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/#comment-6</link>
		<dc:creator>Cedi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 05:01:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aditskandar.blog.friendster.com/2007/11/debat-abu-hanifah-dengan-ilmuwan-kafir/#comment-6</guid>
		<description>Halo Dit. Ada yang aneh, atheis kan nggak percaya adanya roh ?
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Dit. Ada yang aneh, atheis kan nggak percaya adanya roh ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
